Pages

Tuesday, February 24, 2009

Lion Mendarat Tanpa Roda

Pesawat Lion Air JT 972 yang membawa 162 penumpang dari Medan roda depannya tak bisa keluar dan mendarat darurat di Bandara Hang Nadim, Senin (23/2) sekitar pukul 19.15 WIB. Sebelum mendarat, pesawat sempat berputar di udara delapan kali hampir dua jam.

Pesawat ini terbang dari Bandara Polonia sekitar 16.00 WIB, tertunda tiga jam dari jadwal semula, sekitar pukul 12.55 WIB. Dijadwalkan pesawat tiba di Batam pukul 17.35 WIB. Sebelum tinggal landas, pesawat dalam kondisi baik. Seluruh panel dalam kokpit berfungsi dengan baik. Penerbangan berjalan normal.

Sekitar pukul 17.00 WIB, pilot Lion Capt Anwar Hariyanto menghubungi petugas Air Traffic Controller (ATC) Bandara Hang Nadim untuk minta panduan mendarat. Lampu indikator penggunaan sabuk pengaman, menyala. Panggilan Anwar dijawab Didi Dani Saputra. Didi kemudian menghubungi Chief ATC Hang Nadim, Indah Irwansyah mengabarkan rencana pendaratan Lion Air JT 972.

Laporan diterima dan pilot dipersilahkan mengambil ancang-ancang pendaratan. Namun, sekitar pukul 17.20 WIB, pilot menginformasikan pesawat dalam masalah. Roda depan tak bisa keluar. Penumpang belum menyadari kondisi pesawat mengkhawatirkan. Pramugari juga tak menginformasikannya.

Petugas ATC menyarankan pilot mencoba mengulang ancang-ancang pendaratan. Namun, lagi-lagi roda depan tak bisa keluar. Pilot memutuskan untuk kembali naik ke udara. Pesawat terpaksa berputar-putar di ketinggian sekitar 2.000 kaki.

Melihat kondisi ini, Chief ATC Hang Nadim Indah Irwansyah segera melapor ke Kepala Bandara Hang Nadim Razali Abubakar. Razali pun langsung memutuskan untuk menutup landasan.

Pesawat MD 90 itu mencoba mendarat untuk ketiga kalinya. Ternyata upaya tersebut belum juga membuahkan hasil. Pilot terpaksa menerbangkan kembali pesawat dan berputar. Penumpang mulai panik. Mereka sadar ada yang tak beres dengan pesawat tersebut. Setelah upaya pendaratan ketiga itu gagal, baru kru pesawat menginformasikan kepada penumpang adanya kerusakan pada sistem pendaratan.

Karena roda depan seperti terkunci, pesawat pun hanya bisa melakukan percobaan mendarat saja. Pada percobaan keempat pilot berencana memaksakan pendaratan darurat. Petugas ATC yang terus berkomunikasi menyarankan pilot menghabiskan bahan bakar untuk menghindari terjadinya kebakaran jika keputusan mendarat tanpa roda depan jadi diambil.

Pilot menuruti saran petugas. Sejak percobaan pendaratan keempat, setidaknya Lion rute Medan-Batam- Surabaya itu menghabiskan lebih dari 1 jam 40 menit di udara. Pada saat berputar yang ke-8 kali, pilot memutuskan untuk melakukan pendaratan darurat pukul 19.06 WIB.

Pesawat dari arah Barat meluncur kencang menghampiri landasan. Sementara di tepi landasan enam mobil pemadam kebakaran sudah siap mengantisipasi kemungkinan terburuk. Pukul 19.15 WIB, pesawat dipaksakan mendarat. Saat itu sisa avtur dalam tangki pesawat tinggal 550 liter lagi.

Roda belakang menyentuh landasan dan badan pesawat langsung terguncang. Penumpang berteriak histeris ketika badan pesawat menghantam landasan yang menimbulkan guncangan cukup kuat hingga menimbulkan percikan api. Saat itu pesawat sempat terseret sejauh 100 meter di tengah landasan dan baru berhenti di runway 22.

Enam unit mobil PBK yang sudah menunggu sebelumnya langsung mengikuti arah pesawat, seraya menyemprot foam (busa racun api). Percikan api berhasil dijinakkan. Petugas langsung mengevakuasi 162 penumpang pesawat naas tersebut.

Penumpang yang luka dibawa dengan ambulan untuk dirawat. Penumpang lainnya dibawa ke posko haji di terminal kedatangan menggunakan bus. ”Ada 30 persen penumpang stres berat,” kata Kepala Bandara Hang Nadim, Razali Abubakar. Sementara kru awak kabin yakni pilot, copilot dan 4 pramugari dibawa ke sebuah ruangan isolasi di posko haji.

Untuk menghilangkan trauma, pihak bandara langsung mengevakuasi pesawat ke apron 9, dekat bangkai pesawat Adam Air yang tergelincir 10 Maret 2008 silam. “Kita sudah koordinasi dengan KNKT. Rencananya mereka datang malam ini juga,” ujarnya.

Akibat pesawat Lion Airlines mengalami pendaratan darurat di Bandara Hang Nadim Batam, dua maskapai penerbangan terpaksa menunda pemberangkatan dan kedatangan pesawatnya. Yakni Garuda dengan nomor penerbangan GA 157 tujuan Jakarta yang sejatinya berangkat pukul 18.50 WIB, dan Merpati dari Bandung tujuan Batam.

General Manager (GM) Garuda Batam Sukamdo mengatakan, penumpang Garuda tersebut diinapkan di Goodway Hotel Batam. Ratusan penumpang Garuda ini akan diberangkatkan dalam dua penerbangan Selasa (24/2) hari ini dengan pesawat GA 151 pukul 08.20 WIB dan GA 153 pukul 13.50 WIB.

Ditanya siapa yang menanggung biaya kamar ratusan penumpang tersebut, kata Sukamdo, tetap dari pihak Garuda meskipun penerbangan tersebut tertunda gara-gara Lion Airlines. “Itu kondisi post major yakni dalam keadaan darurat,” ujar Sukamdo, kepada Batam Pos kemarin (23/2) malam.

Ditanya kerugian, Sukamdo menampik, tidak melihat dari sisi kerugian. Sebab, pelayanan dan keselamatan penumpang nomor satu bagi maskapai papan atas Tanah Air ini. “Bukan soal untung dan rugi. Tapi, ini komitmen memberikan keselamatan dan kenyamanan penumpang nomor satu. Bisa saja tengah malam kondisinya sudah beres. Kalau kita berangkatkan juga, kasihan penumpang nanti kerepotan di Jakarta. Baik transportasinya ataupun yang lainnya. Sudah, kita putuskan berangkat besoknya (hari ini),” jelasnya.

Pemindahan Lion Air Tunggu KNKT

Proses pemindahan pesawat Lion Air dari landasan Bandara Hang Nadim, Batam yang semula dijadwalkan tengah malam ini, urung dilakukan karena Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mau memeriksa pesawat sebelum dipindahkan.

“Kita tunggu KNKT tiba. Mereka akan langsung berangkat dari Jakarta ke Batam. Sekitar puku 01.30 WIB dini hari tiba di Hang Nadim menggunakan Lion Air,’’ kata Kepala Bandara Hang Nadim Razali Abubakar, pada Batam Pos yang terus menunggu proses evakuasi.

Razali menambahkan, setelah diperiksa KNKT dan diizinkan untuk dievakuasi, maka proses evakuasi dilakukan secara manual, dengan menggunakan sejenis mobil penarik. Badan pesawat bagian bawah dilasi ban bekas. “Harusnya pake bantalan khusus. Tapi bantalan itu hanya ada di Jakarta, jadi rencananya kita pakai ban bekas,’’ kata Razali. Tadi malam, puluhan ban luar mobil bekas sudah disiapkan.

No comments:

Posting Terkini